PANDANGAN PARA AHLI SEBAGAI PERINTIS ILMU SOSIOLOGI
PANDANGAN PARA PERINTIS
Emile Durkheim: Fakta Sosial
Emile Durkheim
berpendapat bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta
sosial merupakan cara-cara bertindak, berpikir dan berperasaan, yang berada
diluar individu dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya. Contoh
yang dipakai Durkheim untuk menjelaskan tentang fakta sosial ini adalah
pendidikan anak: sejak bayi seorang anak diwajibkan makan, minum, tidur pada
waktu-waktu tertentu; diwajibkan taat, dan menjaga kebersihan serta ketenangan;
diharuskan tenggang rasa terhadap orang lain, menghormati adat dan kebiasaan.
Seorang anak yang tidak menaati cara-cara yang diajarkan padanya akan mengalami
sanksi dari suatu kekuatan luar.
Menurut Durkheim
(1968) laju bunuh diri – angka bunuh diri dalam tiap masyarakat yang dari tahun
ke tahun cenderung relative konstan – merupakan suatu fakta sosial. Laju bunuh
diri disebabkan kekuatan-kekuatan yang berada di luar individu. Ada dua jenis bunuh diri yaitu
altruistic suicide dan egoistic suicide. Jenis yang pertama
disebabkan integrasi sosial yang terlalu kuat dan dapat dijumpai pada
masyarakat militer: para anggotanya lebih sering mengorbankan jiwanya demi
keselamatan rekan-rekannya dari pada anggota kelompok lain. Jenis bunuh diri
kedua karena integrasi masyarakat yang terlalu lemah, ditemui misalnya,
manakala agamanya kurang mengikatnya, bilamana masyarakat dilanda krisis
politik, atau jika keluarganya kurang mengikatnya.
Max Weber: Tindakan Sosial
Menurut Weber sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tindakan sosial.
Suatu tindakan dapat disebut tindakan sosial jika tindakan tersebut dilakukan
dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, dan berorientasi pada perilaku
orang lain. Menyanyi di kamar mandi untuk menghibur diri sendiri bukan
merupakan tindakan sosial, tetapi jika maksudnya menarik perhatian orang lain
dapat dikatakan tindakan sosial.
Menurut Weber, suatu tindakan perilaku manusia yang
mempunyai makna subyektif bagi pelakunya. Dari contoh – menyanyi – dapat
mempunyai makna berlainan bagi pelakunya. Karena sosiologi bertujuan memahami
mengapa tindakan sosial mempunyai arah dan akibat tertentu, sedangkan tiap
tindakan mempunyai makna subyektif bagi pelakunya, maka ahli sosiologi yang
hendak melakukan penafsiran bermakna, yang hendak memahami makna subyektif
suatu tindakan sosial harus dapat membayangkan dirinya di tempat pelaku untuk
dapat menghayati pengalamannya.
Pandangan Ahli Sosiologi Masa Kini
Wright Mills: The Sociological Imagination
Pandangan para ahli
sosiologi I abad 20 ini adalah untuk dapat memahami apa yang terjadi di dunia
manapun apa yang ada dalam diri sendiri manusia memerlukan apa yang
dinamakannya sociological imagination (khayalan sosiologi). Menurut Mills,
sociological imagination ini akan memungkinkan kita untuk memahami sejarah
masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya.
Untuk melakukannya diperlukan dua peralatan pokok: yaitu
personal troubles of milieu dan public issues of social structure.
Menurutnya, troubles (kesusahan) berlangsung dalam ciri individu dan
dalam jangkauan hubungan langsungnya dengan orang lain. Troubles merupakan
masalah pribadi dan merupakan ancaman terhadap nilai yang didukung pribadi. Issues
(persoalan) merupakan hal-hal yang berada di luar lingkungan setempat individu
dan di luar jangkauan kehidupan pribadinya. Suatu issues merupakan hal
yang bersifat umum: suatu nilai yang didukung umum dirasa terancam. Contoh,
suatu kota
berpenduduk 100.000 jiwa yang hanya mempunyai seorang penganggur. Bagi
penganggur tersebut pengangguran merupakan personal trouble-nya, dan
untuk mengatasinya kita mempertimbangkan ciri dan ketrampilan individu yang
bersangkutan serta kesempatan yang terbuka baginya. Namun bila suatu kota dengan 50 juta
penduduk dijumpai 15 juta orang penganggur, maka menurut Mills, yang
kita hadapi ialah suatu issue yang pemecahannya berada di luar ruang
lingkup kesempatan yang tersedia bagi masing-masing individu yang bersangkutan.
Peter Berger
Berger mengajukan
berbagai citra yang melekat pada ahli sosiologi, yaitu sebagai seseorang yang
suka bekerja dengan orang lain; menolong orang lain; melakukan sesuatu untuk
orang lain; seorang teoritikus di bidang pekerjaan sosial; seseorang yang
melakukan reformasi sosial; seseorang yang pekerjaannya mengumpulkan data
statistik mengenai perilaku manusia; orang yang mencurahkan perhatiannya pada
pengembangan metodologi ilmiah untuk dipakai dalam mempelajari fenomena
manusia; dan seorang pengamat yang memelihara jarak – seorang manipulator
manusia. Berger mengemukakan
bahwa berbagai citra yang dianut orang tersebut tidak tepat, keliru, dan
menyesatkan.
Menurut Berger seorang
ahli sosiologi bertujuan memahami masyarakat. Berger berpendapat bahwa
daya tarik sosiologi terletak pada kenyataan bahwa sudut pandang sosiologi
memungkinkan kita untuk memperoleh gambaran lain mengenai dunia yang telah kita
tempati sepanjang hidup kita. Contoh yang dipakai Berger. Beberapa tahun
yang lalu seorang rohaniwan terkenal di Amerika Serikat, yang secara berkala
berkhotbah melalui jaringan televisi dan dijadikan teladan oleh jutaan umatnya,
ternyata melakukan hubungan seks di luar nikah dengan sekretarisnya dan
menikmati gaya hidup sangat mewah dengan menyalahgunakan dana yang dikumpulkan
dari umatnya sehingga dihadapkan ke pengadilan. Hal inilah yang dimaksudkan Berger
dengan seeing through the facades, karena dalam hidup ini kenyataan yang
sering dihadapi ialah bahwa things are not what they seem.
Suatu konsep lain
yang disoroti Berger ialah konsep “masalah sosiologis.” Bagi Mills
pokok pembahasan sosiologi ialah kesalingterkaitan antara personal troubles
dan public issues yang menurutnya bersumber pada krisis pengaturan sosial
yang sering melibatkan antagonis dan kontradiksi. Pendapat Berger berlainan,
ia mengatakan bahwa masalah yang menjadi pokok perhatian ahli sosiologi tidak
selalu harus terdiri dari apa yang oleh orang lain dianggap sebagai masalah;
suatu masalah sosiologi tidak sama dengan suatu masalah sosial. Masalah
sosiologis, menurut Berger menyangkut pemahaman terhadap interaksi sosial.
Dengan demikian
perceraian dapat merupakan suatu masalah sosiologis, dan kebahagiaan dalam
keluarga pun dapat merupakan suatu masalah sosiologis yang perlu diteliti
sebab-sebab nya. Seorang ahli sosiologi dapat mempelajari pengangguran,
kemiskinan, pelacuran (gejala yang sering dinamakan masalah sosial) dan ia pun
dapat mempelajari mengapa suatu kelompok masyarakat selalu lebih berhasil
meraih sukses daripada anggota lain dalam masyarakat, atau mengapa suatu
masyarakat tertentu lebih berhasil memupuk keluarga bahagia daripada masyarakat
lain.
Komentar
Posting Komentar