SOSIALISASI MENURUT PARA AHLI
SOSIALISASI
Pemikiran Berger
Peter Berger (1978) melihat adanya perbedaan penting antara
manusia dengan makhluk lain (hewan). Seluruh perilaku hewan dikendalikan oleh
nalurinya, sedangkan manusia pada saat dilahirkan merupakan makhluk yang tidak berdaya
karena memiliki naluri yang relatif tidak lengkap. Oleh sebab itu manusia
kemudian mengembangkan kebudayaan untuk mengisi kekosongan yang tidak diisi
oleh naluri. Hewan tidak perlu menentukan kebutuhan akan makanan karena hal
tersebut diatur oleh nalurinya sedangkan manusia perlu menentukan sendiri apa
yang harus dimakannya yang kemudian dikukuhkannya menjadi bagian dari
kebudayaan. Melalui proses seperti itulah kini kita jumpai adanya
keragaman/kebiasaan makanan pokok, ada kelompok dengan makanan pokok nasi,
jagung, kentang, sagu, ubi, roti dan sebagainya. Apabila hewan dengan jenis
kelamin yang berbeda dapat saling berhubungan karena naluri, tetapi tidak
dengan manusia.
Manusia mengembangkan
kebiasaan mengenai hubungan pria dan wanita dengan berbagai sistem pernikahan
yang berbeda antar kelompok/golongan/suku bangsa/bangsa. Keseluruhan berbagai
kebiasaan manusia baik di bidang ekonomi, kekeluargaan, pendidikan, politik,
sosial, agama dan sebagainya harus dipelajari oleh setiap anggota baru suatu masyarakat
melalui suatu proses sosialisasi (sosialization).
Menurut Berger, sosialisasi
adalah :
” A process by which a
child learns to be a participant member of society ” ---- Suatu proses melalui mana seorang anak belajar menjadi anggota
yang berpartisipasi dalam masyarakat. Apa yang dipelajari seseorang dalam
proses sosialisasi, para ahli mengatakan bahwa yang diajarkan melalui proses
sosialisasi adalah peranan-peranan, sehingga teori sosialisasi sejumlah
tokoh/ahli disebut “Role Theory”.
Pemikiran Mead
Salah satu teori peranan yang dikaitkan dengan
sosialisasi adalah teori George Herbert Mead dalam bukunya ”Mind,
Self and Society” (1972). Menurut Mead, manusia yang baru lahir
belum mempunyai diri, diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi
dengan anggota yang lain. Menurut Mead pengembangan diri manusia
berlangsung melalui tiga tahap, yaitu: play stage, game stage dan generalized other.
·
Pada tahap Play Stage,
seorang anak kecil mulai belajar
mengambil peranan orang lain di sekitarnya. Ia mulai menirukan peranan yang
dijalankan orangtuanya, atau orang dewasa lain. Dengan demikian kita sering
melihat anak kecil dikala bermain meniru peranan ayah, ibu, nenek, dokter,
polisi, sopir, tukang pos dan sebagainya, walaupun si anak belum memahami
sepenuhnya peranan-peranan yang ditirunya. Seorang anak menirukan pekerjaan ayahnya tetapi ia
tidak memahami kenapa ayahnya bekerja.
·
Pada
tahap Game Stage, seorang anak tidak hanya mengetahui peranan yang harus
dijalankannya, tetapi ia telah mengetahui peranan apa yang harus dijalankan
orang lain.
Contoh : Dalam suatu permainan
perang-perangan, si anak harus tahu apa yang diharapkan dari teman mainnya,
tetapi juga apa yang diharapkan dari orang-orang lain yang ikut bermain (musuh,
mata-mata, tawanan perang, rakyat biasa, kawan, dll). Dalam mempersiapkan suatu
sensus dan survei, Badan Pusat Statistik melatih petugas lapangannya melalui
program Bermain Peran atau Role Playing, dengan harapan pada saat pencacahan
bisa diperoleh data yang obyektif, reliabel, representatif, relevan dan up to
date.
·
Pada
sosialisasi tahap awal, interaksi anak terbatas dalam unit yang kecil
(keluarga). Pada tahap Generelazide Other seseorang dianggap telah mampu
mengambil peranan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat. Selaku siswa Ia
telah memahami peranan guru, sebagai anak Ia memahami peranan orang tua,
sebagai anggota perkumpulan sepak bola Ia tahu peranan pelatihnya. Apabila
seseorang telah mencapai tahap ini Ia telah disebut mempunyai suatu ”Diri”.
Melalui contoh di atas nampak dengan jelas bahwa seseorang terbentuk melalui
interaksi dengan orang lain.
Pemikiran Cooley
Peranan interaksi dalam proses sosialisasi tertuang dalam buah pikiran
Charles H. Cooley. Menurutnya konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalui
interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan
orang lain ini oleh Cooley
diberi nama looking-glass
self. yang terbentuk melalui tiga tahap :
1.
Seseorang
mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya.
2.
Seseorang
mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadapnya.
3.
Seseorang
mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakan sebagai penilaian orang lain
terhadapnya.
Untuk memahami pendapat Cooley, berikut disajikan sebuah contoh kasus :
Seorang
peserta Program Diploma IV Statistik memperoleh nilai E untuk mata kuliah Metode
Statistik. Ia merasa para dosen menganggapnya sebagai mahasiswa yang bodoh. Ia
juga merasa tidak dihargai lalu ia menjadi murung. Dalam contoh ini perasaan
seseorang mengenai penilaian terhadapnya menentukan penilaiannya terhadap diri
sendiri, walaupun terlepas dari soal apakah dalam kenyataannya para dosen
memang berperasaan demikian terhadapnya.
Apa
yang terjadi bila seorang anak tidak mengalami sosialisasi.
Seseorang yang tidak mengalami sosialisasi tidak
akan dapat berinteraksi dengan orang lain.
Bukti konkret : seorang anak laki-laki berusia 11 – 12
tahun yang ditemukan tahun 1990 di desa Saint-Serin Perancis dan kasus gadis
usia 13 tahun di California yang disekap ayahnya dalam gudang gelap sejak usia
1,5 tahun, setelah diketemukan anak-anak tersebut berperilaku sebagai manusia
yang tidak selayaknya (mereka tidak bisa berpakaian, berbicara, mengunyah
makanan, buang air besar/kecil dengan tertib dsb).
Kasus di atas memberikan kepada kita suatu
gambaran mengenai apa yang akan terjadi apabila proses sosialisasi tidak
dilakukan. Analog dengan kejadian di atas, kita dapat membayangkan apabila
tugas mensosialisasikan suatu survei atau sensus yang akan dilakukan tidak
dilaksanakan dengan secara sungguh-sungguh dan bertanggungjawab oleh para
aparatnya termasuk Para Koordinator Statistik Kecamatan. Kondisi/kejadian ini
tentunya bisa berakibat kurangnya respon dari para responden dalam
menjawab/mengisi kuesioner yang telah disiapkan oleh Badan Pusat Statistik.
Agen Sosialisasi
Menurut Fuller Jacobs (1973), pihak-pihak yang
melaksanakan sosialisasi disebut sebagai
Agen Sosialisasi. Terdapat beberapa agen sosialisasi utama, antara lain
:
- Keluarga
- Teman bermain
- Sekolah, dan
- Media massa
·
Keluarga
Pada awal kehidupan manusia
agen sosialisasi biasanya adalah ayah, ibu, dan saudara kandung. Pada
masyarakat dengan sistem keluarga luas (extended
family) agen sosialisasi bisa mencakup kakek, nenek, paman, bibi, saudara
sepupu, dan sebagainya. Pada masyarakat modern dimana kedua orang tua bekerja,
sosialisasi dilakukan oleh orang lain (selain kerabat), seperti : tetangga,
baby sitter, pekerja sosial, pembantu rumah tangga, petugas penitipan anak dan
sebagainya. Peranan agen sosialisasi pada tahap awal sangat penting, karena
kemampuan yang dimiliki oleh agen sosialisasi begitu berpengaruh dalam proses
sosialisasi. Seorang bayi belajar berkomunikasi bukan hanya secara verbal/non
verbal, ia mulai berkomunikasi tidak saja melalui pendengaran dan penglihatan,
tetapi juga melalui panca indera lain, terutama sentuhan fisik (kasih sayang).
Proses sosialisasi akan gagal bila dilaksanakan oleh tangan-tangan yang salah.
Apalagi bila dilakukan terlambat atau terlalu dini.
·
Teman Bermain
Setelah anak dapat berjalan/bepergian,
seorang anak memperoleh agen sosialisasi lain yaitu teman bermain, baik itu
kerabat maupun tetangga dan teman sekolah. Melalui teman bermain seorang anak
mempelajari kemampuan baru. Pada tahap ini anak mulai memasuki tahap game stage. Dalam kelompok bermain anak
mulai mempelajari nilai-nilai keadilan.
·
Sekolah
Agen sosialisasi berikutnya
adalah sistem pendidikan formal. Di sini seseorang mempelajari hal-hal yang
belum dipelajari dalam dua agen sebelumnya. Melalui agen ini seseorang
dipersiapkan menjadi anggota masyarakat, karena orangtua tidak lagi dapat
mempersiapkan anak tanpa bantuan pihak lain.
Menurut Robert Dreeben (1968)
selain belajar berhitung, membaca, dan menulis, anak diperkenalkan berbagai
aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement)
universalisme dan spesifisitas. Di lembaga ini anak mulai belajar mengurangi
ketergantungan pada orang lain. Di sekolah peranan yang diraih dengan prestasi
merupakan peranan yang menonjol. Seseorang didorong untuk giat belajar agar meraih
sukses. Keberhasilan/kegagalan yang dicapai dapat menjadi dasar penentuan
peranan di masa mendatang. Melalui universalisme anak akan diperlakukan sama
sesuai tata tertib yang ada. Perlakuan berbeda hanya dibenarkan bila didasarkan
pada kelakuan siswa di sekolah, apakah ia berkemampuan, bersikap dan bertindak
sesuai apa yang diharapkan sekolah. Di sekolah kegiatan serta penilaian siswa
dibatasi secara spesifik. Ia boleh gagal terhadap suatu mata pelajaran tetapi
bukan berarti tidak boleh berhasil dalam mata pelajaran lain.
·
Media Massa
Menurut Light, Keller dan
Calhoun (1989) media cetak, media elektronik merupakan bentuk komunikasi yang
menjangkau sejumlah besar orang. Media massa diidentifikasi sebagai agen
sosialisasi yang berpengaruh terhadap prilaku khalayaknya. Semakin meningkat
teknologi makin memungkinkan peningkatan kualitas serta peningkatan
frekuensi/peluang media massa berperan sebagai agen sosialisasi. Pesan-pesan
yang ditayangkan media elektronik dapat mengarahkan pemirsa ke arah perilaku prososial
maupun anti sosial. Adegan-adegan yang menjurus ke arah kekerasan/pornografi
dapat memicu perilaku agresif anak/peningkatan perbuatan asusila dalam
masyarakat. Iklan-iklan yang ditayangkan dapat memicu ke arah perilaku
konsumtif dan sebagainya. Demikian pentingnya media massa sehingga agen ini
dimanfaatkan untuk acara-acara yang positif seperti : pendidikan, hiburan,
pesan, dan lain-lain.
Kesepadanan Agen Sosialisasi Berlainan
Pesan-pesan yang disampaikan oleh para agen
sosialisasi yang berlainan ada kalanya tidak sepadan. Apa yang diajarkan oleh
keluarga bisa berbeda/bertentangan dengan apa yang diajarkan di sekolah.
Kelakuan yang dilarang oleh keluarga/sekolah (merokok, miras, perbuatan
asusila) dipelajari oleh anak melalui agen sosial lain seperti teman bermain
dan media massa. Apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen sosialisasi
sepadan dan tidak saling bertentangan melainkan saling mendukung maka proses
sosialisasi diharapkan dapat berjalan lancar. Namun apabila dalam masyarakat
dijumpai agen sosialisasi dengan pesan yang saling bertentangan akan dijumpai
kecenderungan warga masyarakat sering merasakan konflik pribadi serta merasa
diombang-ambingkan oleh agen sosialisasi yang berlainan.
Sosialisasi Primer dan Sekunder
Proses sosialisasi berlangsung sepanjang hayat.
Dalam kaitan inilah para ahli membahas bentuk-bentuk sosialisasi, seperti :
sosialisasi setelah masa kanak-kanak, pendidikan sepanjang hidup, pendidikan
berkesinambungan. Sosialisasi dapat juga dibagi menjadi sosialisasi primer dan
sosialisasi sekunder.
Sosialisasi Primer : sosialisasi pertama yang dijalani individu
semasa kecil, melalui mana ia menjadi
anggota masyarakat.
Sosialisasi Sekunder : merupakan proses berikutnya yang
memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru dari
dunia obyektif masyarakatnya.
Salah satu bentuk sosialisasi sekunder yang banyak
dijumpai dalam masyarakat adalah Proses Resosialisasi yang didahului dengan
proses desosialisasi. Dalam proses desosialisasi seorang mengalami ”pencabutan”
diri yang dimilikinya, sedangkan dalam proses resosialisasi seorang diberi
”diri” yang baru.
Rumah tahanan merupakan salah satu contoh dimana
seseorang mengalami proses desosialisasi. Seorang yang berubah status dari
orang bebas, kemudian tahanan dan akhirnya jadi narapidana. Ia harus
menanggalkan busana bebas dan menggantinya dengan seragam tahanan, berbagai
kebebasan yang semula dinikmatinya dicabut, namanya tidak digunakan tetapi
diganti dengan nomor tahanan. Setelah
menjalani proses yang cenderung membawa dampak terhadap citra diri dan harga
diri, ia kemudian menjalani resosialisasi, dididik menerima aturan dan nilai
baru untuk mempunyai diri yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Proses
serupa bisa terjadi di Rumah Sakit Jiwa maupun dalam Lembaga Pendidikan Militer
(Akabri, Sekolah Polisi Negara, dll).
Pola-pola Sosialisasi
1.
Sosialisasi dengan cara Represif
(Represive Sosialization)
Sosialisasi ini menekankan
pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Sosialisasi ini memiliki ciri-ciri
: penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan, penekanan pada
kepatuhan anak pada orang tua, penekanan pada komunikasi yang bersifat satu
arah, non verbal dan berisi perintah, penekanan titik berat sosialisasi pada
orang tua dan pada keinginan orang tua.
2. Sosialisasi dengan cara
Partisipasi (Participatory Socialization)
Sosialisasi cara ini merupakan
pola yang di dalamnya anak diberi kebebasan, penekanan diletakkan pada
interaksi, komunikasi bersifat lisan, anak menjadi pusat sosialisasi, kebutuhan
anak dianggap penting.
Komentar
Posting Komentar